Untukmu, aku punya sekotak harap; semoga tidak terlalu pengap disimpan dalam tumpukkan rapalan doa yang senantiasa berkilap-kilap.
Untukmu, semoga selalu yang terbaik. Mintalah dikuatkan, bukan dimudahkan.
Kita akan menumbuhkan cinta lebih besar lagi di setiap jenuh menerjang, di setiap ego yang menang, disetiap kita yang seolah lupa jalan pulang, disetiap ucapan manis yang seketika berubah menjadi bumerang, disetiap debat yang kita upayakan menang, disetiap pertikaian-pertikaian kecil yang mulai meradang membesar tanpa kita hadang.
Kita akan merawat rasa yang nyaris hilang melalui lirih maaf dan tulus memaafkan, melalui perbaikan apa yang akan kita lakukan setelah ini; setelah menemui masalah lalu berkaca pada diri sendiri.
Bagi aku yang api, dia tidak menyulap dirinya sebagai angin. Dia selalu jadi rintik hujan yang pelan-pelan memadamkan. Karena itu Tuhan, orang-orang sepertinya, tolong takdirkan untuk tinggal dihidupku dalam waktu lama. Tetaplah seperti ini, menjadi sesuatu yang selalu berada dikedua sisi hatiku yang berbeda, diantara suka dan duka.
Perjalanan ini bukan mengenai dua orang yang sama-sama kuat, melainkan mengenai dua orang yang sedia saling menguatkan. Kutanya, maukah menjadi kuat bersama? Menguatkan masing-masing disaat berat ?!
Tak perlu bersusah payah mencari cara untuk meluluhkan hatiku. Temui saja mama dan almarhum papaku. Yakinkan mereka bahwa kamu akan menjagaku yang mungkin tidak akan pernah sama seperti yang mereka lakukan, tapi setidaknya kau tak lelah menemani, tak akan meninggalkan bahkan disaat terburukku, maka hatiku akan luluh setelahnya.
Selamat membaca❤ ,
Untukmu yang selalu kurengkuh dalam doa☺☺
Menyendiri dan menulis adalah caraku melarikan diri
Sabtu, 09 September 2017
Senin, 19 Juni 2017
Suara Dalam Kepala
Assalamualaikum ...
Jangan tanya kabar, kamu tau? ditanya kamu, setidak baik apapun keadaanku, aku jadi jauh merasa lebih baik.
Lama tak bersua dengan blog ini membuatku rindu, maafkan aku yang menelantarkanmu selama berbulan-bulan. Entah kenapa, rasannya lebih asyik meng-istirahatkan raga dan perasaan ini setelah dipacu dengan segudang tugas akademik dibanding harus menulis atau mengupdate isi blog ini. Bukan aku tak suka menulis lagi, BUKAN. Meskipun berbulan-bulan aku tak menulis lagi disini, namun aku tetap aktif menulis sepatah dua patah kata bahkan berbait-bait di instagramku sebagai pelengkap foto yang aku upload.
Mungkin menurut kamu, aku tidak bisa me-manage waktuku dengan baik. Hmm, bisa jadi iya bisa jadi tidak. Sekarang begini saja ajari aku untuk bisa membagi waktuku dengan baik dan proporsional. Sungguh sebenarnya aku sedang belajar menaruh porsiku dengan baik diberbagai hal. Tapi tentu tak semudah membalikkan telapak tangan, semua butuh proses step by step.
Banyak hal yang aku alami di bulan Januari hingga Juni ini. Tentu aku tak akan menceritakan semuannya disini. Aku akan menceritakan satu saja hal saja yang membuatku selalu dirundung keresahan dan kegelisahan yang tak berkesudahan. Jadi begini awalnya, aku mau menanyakan dulu apakah kalian percaya dengan hal mistis? percaya dengan yang namannya "kesurupan"? Untuk aku sendiri, awalnya hanya sekedar ya aku percaya dan memang ada hal seperti itu dan aku tidak seberapa menghiraukan tapi pandangan aku berubah ketika dihadapan mata kepalaku sendiri mama tiba-tiba mengalami kesurupan. Aku melihat tatapan mata mama yang kosong, menunjuk-nunjuk sesuatu yang ada dipojok kamar dan sesekali tertawa entah apa yang ditertawakannya. Disamping itu ketika diajak bicara beliau tak menyahut sama sekali. Saat itu kepanikan seketika melandaku. Singkat cerita beliau sadarkan diri, namun kata yang diucapkan setelah beliau sadar membuatku tersontak kaget dan selalu terpikirkan hingga saat ini "Mama ikut Papamu aja ya, kamu disini sudah ada yang menemani, kakakmu juga. Jadi mama ikut papa aja ya" aku hanya terdiam dan langsung mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Yang jadi masalahnya, mama seringkali mengalami hal yang aku bilang "kesurupan" di kala tertentu dan belum terselesaikan hingga saat ini. Aku tidak paham apakah ini benar mengalami kesurupan ataukah memang karena rasa sakit yang teramat dalam yang dialami mama hingga membuat pikiran mama blank dan menangis sendiri. Aku tak tahu, aku belum bisa melacaknya.
Untuk apapun keputusan dan kegiatan apapun yang kuambil beberapa bulan terakhir ini tentang bukan soal akhir, bukan soal awal bukan tentang pula caranya untuk mengakhiri. Tapi ini tentang menjalani, bertahan dan mendewasa dalam setiap pilihan.
Cintai apa saja yang menjadi pilihanmu, cintai apa saja orang-orang dan hal apapun yang ada disekitarmu. Biarlah lewat cinta, kamu bisa bekerja tanpa diganggu. Biarlah lewat aku, cinta bisa menggembalikan percaya yang telah layu. Biarlah lewat cinta, kita bisa sama-sama menggandakan bahagia. Hatiku mungkin pernah patah. Langkahku tak jarang goyah dan kehilangan arah. Kini biar Tuhan yang menentukan cerita dan kita yang menjaga.
Untuk kamu,
Cinta orang tua padamu tidak pernah sederhana, walau terlihat sama saja. Salam untuk beliau, yang tahan segala cuaca dalam mencintaimu, yang kamu cintai meski sembunyi-sembunyi. Selamat menikmati waktu bersama orang-orang tersayang.
Jangan pernah sia-siakan waktu yang sedang berjalan menemanimu serta jangan pernah lupakan mereka yang membersamaimu melewati detik yang bergulir. Semangat membaik bersama.
Yap, terimakasih juga untuk yang diluar sana, karena telah merindukan tulisanku. Semoga setidaknya ini mengobati kerinduanmu itu HAHAHA ngaco. Yang penting terimakasih untuk kamu yang mau meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini, semoga selalu bahagia ....
❤
❤ Di perempatan waktu, dengan doa aku menunggu ❤
Jangan tanya kabar, kamu tau? ditanya kamu, setidak baik apapun keadaanku, aku jadi jauh merasa lebih baik.
Lama tak bersua dengan blog ini membuatku rindu, maafkan aku yang menelantarkanmu selama berbulan-bulan. Entah kenapa, rasannya lebih asyik meng-istirahatkan raga dan perasaan ini setelah dipacu dengan segudang tugas akademik dibanding harus menulis atau mengupdate isi blog ini. Bukan aku tak suka menulis lagi, BUKAN. Meskipun berbulan-bulan aku tak menulis lagi disini, namun aku tetap aktif menulis sepatah dua patah kata bahkan berbait-bait di instagramku sebagai pelengkap foto yang aku upload.
Mungkin menurut kamu, aku tidak bisa me-manage waktuku dengan baik. Hmm, bisa jadi iya bisa jadi tidak. Sekarang begini saja ajari aku untuk bisa membagi waktuku dengan baik dan proporsional. Sungguh sebenarnya aku sedang belajar menaruh porsiku dengan baik diberbagai hal. Tapi tentu tak semudah membalikkan telapak tangan, semua butuh proses step by step.
Banyak hal yang aku alami di bulan Januari hingga Juni ini. Tentu aku tak akan menceritakan semuannya disini. Aku akan menceritakan satu saja hal saja yang membuatku selalu dirundung keresahan dan kegelisahan yang tak berkesudahan. Jadi begini awalnya, aku mau menanyakan dulu apakah kalian percaya dengan hal mistis? percaya dengan yang namannya "kesurupan"? Untuk aku sendiri, awalnya hanya sekedar ya aku percaya dan memang ada hal seperti itu dan aku tidak seberapa menghiraukan tapi pandangan aku berubah ketika dihadapan mata kepalaku sendiri mama tiba-tiba mengalami kesurupan. Aku melihat tatapan mata mama yang kosong, menunjuk-nunjuk sesuatu yang ada dipojok kamar dan sesekali tertawa entah apa yang ditertawakannya. Disamping itu ketika diajak bicara beliau tak menyahut sama sekali. Saat itu kepanikan seketika melandaku. Singkat cerita beliau sadarkan diri, namun kata yang diucapkan setelah beliau sadar membuatku tersontak kaget dan selalu terpikirkan hingga saat ini "Mama ikut Papamu aja ya, kamu disini sudah ada yang menemani, kakakmu juga. Jadi mama ikut papa aja ya" aku hanya terdiam dan langsung mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Yang jadi masalahnya, mama seringkali mengalami hal yang aku bilang "kesurupan" di kala tertentu dan belum terselesaikan hingga saat ini. Aku tidak paham apakah ini benar mengalami kesurupan ataukah memang karena rasa sakit yang teramat dalam yang dialami mama hingga membuat pikiran mama blank dan menangis sendiri. Aku tak tahu, aku belum bisa melacaknya.
Untuk apapun keputusan dan kegiatan apapun yang kuambil beberapa bulan terakhir ini tentang bukan soal akhir, bukan soal awal bukan tentang pula caranya untuk mengakhiri. Tapi ini tentang menjalani, bertahan dan mendewasa dalam setiap pilihan.
Cintai apa saja yang menjadi pilihanmu, cintai apa saja orang-orang dan hal apapun yang ada disekitarmu. Biarlah lewat cinta, kamu bisa bekerja tanpa diganggu. Biarlah lewat aku, cinta bisa menggembalikan percaya yang telah layu. Biarlah lewat cinta, kita bisa sama-sama menggandakan bahagia. Hatiku mungkin pernah patah. Langkahku tak jarang goyah dan kehilangan arah. Kini biar Tuhan yang menentukan cerita dan kita yang menjaga.
Untuk kamu,
Cinta orang tua padamu tidak pernah sederhana, walau terlihat sama saja. Salam untuk beliau, yang tahan segala cuaca dalam mencintaimu, yang kamu cintai meski sembunyi-sembunyi. Selamat menikmati waktu bersama orang-orang tersayang.
Jangan pernah sia-siakan waktu yang sedang berjalan menemanimu serta jangan pernah lupakan mereka yang membersamaimu melewati detik yang bergulir. Semangat membaik bersama.
Yap, terimakasih juga untuk yang diluar sana, karena telah merindukan tulisanku. Semoga setidaknya ini mengobati kerinduanmu itu HAHAHA ngaco. Yang penting terimakasih untuk kamu yang mau meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini, semoga selalu bahagia ....
❤
❤ Di perempatan waktu, dengan doa aku menunggu ❤
Senin, 29 Agustus 2016
Dunia Terbalik
Kesedihan menyelimuti. Cahaya bola itu mulai meredup
terbiaskan luka dalam. Perasaan lara yang menggerayang hatinya kini semakin
menggelora. Dengan kekecewaan yang sangat besar ia meninggalkan kedigdayaan
yang membelenggu raga dan jiwannya. Surai hitam legamnya menjuntai ke bawah
saat kepala itu dipaksa menunduk oleh nasib.
“Maafkan aku”. Lirihanku mengalun memutus ketegangan yang
mengukung kami. Namun tak satupun uraian kata yang sudi terucap dari bibir
tipisnya itu kendati aku telah meruntuhkan asanya. Serpihan memori di
celah-celah benang kepercayaan yang dipaksa putus oleh takdir. Memori itu
kembali menghempaskan diriku secara kasar ke waktu lalu.
Demokrasi telah mati. Absurditas kini menjadi hal yang dapat teratasi. Didepanku kini, sebuah hal yang kian lumrah di kota ini kembali menampakkan eksistensinya. Seorang wanita tua dituduh melakukan pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati. Semua kata yang dilontarkan para saksi itu jelas adalah kebohongan penuh drama hanya untuk menyudutkan wanita tua itu dan sebaliknya, menjadi alibi kuat untuk menyokong seseorang yang seharusnya duduk bersimpuh disana. Tentu jelas ini hanyalah sebuah kabaret pengambing hitaman dan wanita itu dengan segala ketidakberuntungan terpilih oleh nasib. Sidangpun berakhir dengan penindaklanjutan penyidikan bukti yang diberikan oleh pihak penuntut.
Ekor mataku beralih pada seorang teruna kikuk dengan kacamata tebal kedodoran dibatang hidungnya. Ah, dia adalah pembela umum untuk terdakwa yang diberikan secara sukarela oleh pemerintah. Sayangnya, sikapnya lantas berbanding terbalik dengan tubuh tegap dan durja menyeramkan miliknya. Dari segi intelektual yang ia miliki, tak kupingkiri, teruna itu jelas tak pantas menyandang gelar pengacara.
Saat atensiku kembali terfokus ke depan, seorang gadis muda telah berdiri di depanku, menghadang langkahku. Sepasang iris hitam pekatnya menatapku tanpa emosi. Untuk saat-saat seperti ini, dia cukup tenang, mengingat wanita tua yang menjadi terdakwa adalah ibunya. "Saya telah mencari tahu tentang Anda. Tuan, tolong jadilah pengacara ibu saya!" ucapnya menunduk dalam dengan surai hitam kemilaunya yang menjuntai indah.
"Tidak." Tak perlu berbasa-basi aku menolak tanpa berpikir panjang. Bibir tipis miliknya bergetar, namun tetap tak menggoyahkan keputusan bulatku. Kembali, aku melanjutkan langkahku melewati gadis muda itu. Namun tangan kecil berlumur peluh dingin itu menahan pergelangan tanganku. "Ibuku tak bersalah!" raungnya penuh kegetiran. Aku tahu. Tapi …"Kau tak akan pernah menang, Gadis Kecil," ucapku dingin. Itulah kenyataannya. Aku berbalik menatap parasnya yang kini ditampar oleh kenyataan. "Keadilan tidak untuk mereka yang tak memiliki pengaruh," ucapku menohok kepercayaan dirinya.
"Kenapa rakyat kecil seperti kami tak layak mendapatkannya, Tuan?" lirihnya nestapa. Ia meremas ujung bajunnya yang lusuh, bahu itu merosot jatuh, keberaniannya seolah menguap ditelan bayangan. "Lantas, dimana rakyat kecil seperti kami dapat mencicipi rasa keadilan?" tanyanya menuntut. Kembali, tengadah ia menatapku. Bola mata yang memancarkan tekad tak tergoyahkan itu begitu menusuk batinku. Bibir tipisnya bergetar namun tekadnya tak kunjung surut. Tanpa rasa gentar sedikitpun, ia menatapku dalam. "Bukankah keadilan adalah tonggak hukum? Dan hukum tercipta untuk memberikan persamaan pada makhluk yang sama tanpa membedakan status atau apapun itu."
Untaian kata penuh tekad itu berhasil menohok hatiku. Tak kiranya dia mengingatkanku akan diriku yang dulu, penuh tekad dan perasaan yang menggebu. Rasa empati mulai menggelayar di dadaku. Namun bisakah aku? Kutatap matanya lurus, menyelisik secuil dusta disana, namun hasilnya nihil. Tak ada dusta maupun rasa haus balas yang diharapkannya, melainkan ia mendapatkan sepercik keadilan.
"Tuan, saya memang tak dapat membayar Anda sepersen pun. Tapi tidakkah Anda mau memberikan kesempatan bagi gadis yang tak lagi punya harga diri ini? Saya hanya menginginkan hakku sebagai seorang warga negara dan manusia." Hati nuraniku tersentuh. Dan pada akhirnya, kata itu meluncur dari bibirku kendati batinku masih berperang. "Baiklah." Yang sesaat kemudian kusesali. Namun senyuman yang merekah sempurna di bibir tipis itu sontak menggugurkan setiap kegoyahanku. Membuatku lupa akan satu hal yang terlewatkan. Sang tirani kini menanti mengeksekusi diriku.
Tak ayal, bergelut selama seminggu dengan segala bukti,
kini, peluh ini akan terbayar. Semua bukti ini cukup membebaskan wanita tua itu
dari tuduhan salah alamat itu. Dengan ini, salah satu petinggi yang menjadi
akar permasalahan ini tak akan dapat menampik kebenaran. Ariani, gadis berusia
15 tahun, gadis muda dengan durja nan elok itu tak berhenti merapalkan terima
kasih.
"Tuan, jika nanti ibuku telah terbebas. Sudikah Anda berkunjung ke kediaman kami? Mungkin tak akan pantas untuk Anda, tapi saya berani bertaruh, Anda akan menyukainya. Saat senja datang, warna merah nan elok rupawan lantas berhamburan menembus ladang gandum di belakang rumah. Dimana saat itu, barisan kawanan burung membelah cakrawala," tuturnya dengan mata berbinar bahagia.
Kulit seputih porselennya nampak berkilau ditimpa mentari ufuk Barat. Tawanya mengalun bak melodi indah pelepas gundah. Melihatnya, sungguh membuatku rindu akan adik kecilku di kampung halaman. Ah, bagaimana kabarnya sekarang? Jika umur masih ada esok, akan kubeli sekotak cokelat putih kesukaannya, mungkin juga dengan sepasang mukena baru untuk ibu. Entah sudah berapa lama tak juga aku kunjung menemui mereka. Kesibukan di dunia politik benar-benar memeras peluh. Melihat Ariani dengan semangat menggebu sungguh mengingatkanku akan masa muda. Ah, ternyata bernostalgia tak seburuk yang kukira.
Hari itu, aku membawa Ariani makan malam di sebuah restoran dengan hamparan laut yang menjadi latar pelengkap. Matanya berpendar takjub, tak kuasa aku menahan tawa saat melihatnya begitu susah payah memotong daging menggunakan pisau atau saat kebingungan menatap sendok yang harus ia gunakan. Sepintas, aku menerka apakah ini rasanya memiliki seorang anak? Bagi pria lajang yang telah menginjakkan kaki di umur 35 tahun, kiranya aku harus segera bergegas mencari pasangan.
Beristirahat sejenak dari kepenatan lantas mencari pasangan hidup, mungkin itu jalan yang tepat.
Malam itu, yang kuingat aku mengantar Ariani pulang ke rumah
kerabatnya kemudian kembali ke kediamanku lantas melepas penat di bawah guyuran
air hangat. Sebelum benar-benar terlelap, kembali kususun bahan untuk sidang
besok. Aku tak tahu bagaimana atau kapan persisnya, namun saat kusadari,
beberapa orang telah menyelinap masuk ke kamarku. Ingin ku teriak namun
tenggorokan ini lantas tersendat, seolah ada sebuah batu menyumbat lajunya.
Sang tirani akhirnya menampakkan wujudnya ….Satu … dua … tiga … empat …. Ada empat orang! Dan semuanya berparas menyeramkan dengan balutan jas hitam yang membungkus tubuh berototnya. Layaknya algojo, mereka membawa berbagai macam senjata di tangannya. Tubuhku sontak menegang sempurna.
"Tuan Ferdinand? Saya datang kemari memohon suatu hal pada Anda. Kiranya Anda mau membantu kami." Suara bariton menyahut memutus keheningan yang mencekik. "Apa … itu?" Tanpa perlu bertanya, otakku tentu dapat mencerna apa yang terjadi. "Saya ingin Anda kalah dalam sidang besok," ujarnya dengan kesopanan yang benar-benar dibuat-buat. Ia tersenyum menatapku, senyuman yang nyaris bagaikan seringaian.
Wajah riang Ariani kembali terbesit dalam benakku, pengharapan besar yang diberikan gadis itu demi sebuah nyawa yang ia sayangi. Tidak. Tak akan kusia-siakan. Sesaat sebelum aku berkata, ia mengeluarkan beberapa lembar foto dari sakunya. Mataku membulat tak percaya dengan hati yang meluruh penuh kegetiran. Itu ibu dan adikku …."Kami memohon kerjasama Anda, Tuan."
Maafkan aku, Ariani. Seharusnya, sejak awal aku tak menerima
permintaannya. Kenapa sangat sulit untuk berhenti menjadi seorang pecundang? Lamat-lamat,
aku mengangguk lemah disusul senyuman kepuasan oleh mereka. Dunia ini, layaknya
sebuah sandiwara. Dan aku adalah satu dari sekian ribu pecundang yang berada
pada bayang-bayang penulis. Pada hakikatnya, kebenaran selalu tunduk pada
kenyataan. Keadilan berlaku pada mereka yang memiliki pengaruh, itulah hukum
yang berlaku di dunia ini.
"Maafkan aku," lirihku menatap durjanya yang muram. Aku meruntuhkan asanya, memecahkan setiap serpihan harapan yang ia bangun dengan tekad yang menggebu. Dengan kebisuanku di ruang sidang, telah kurenggut nyawanya bahkan jauh sebelum sidang itu berakhir. Aku telah membunuh batinnya, mencabik-cabik secuil harap dari genggamannya. Lantas, masihkah aku harus mengharapkan rasa haus balas ataupun sekedar untaian kata dari bibir tipis itu? Betapa serakahnya diriku ini. Kini, sebuah nyawa-tidak, tapi dua nyawa tak bersalah kembali merenggang akibat lemahnya hukum yang berlaku.
Dan kita terbelenggu dalam ego tanpa titik. Untuk tuntutan membenarkan yang abstrak. Terbalut dahaga tahta dan kilauan, dan berbanding terbalik dengan isyarat Tuhan yang dibenak. Wahai petinggi-petinggi. Saya bertanya apakah selalu orang-orang yang jujur akan kalah dengan orang yang ber-uang? Dimanakah keadilan wahai petinggi?
Selasa, 14 Juni 2016
Berdamai dengan keadaan
Sebenarnya lagi suntuk aja gitu, gak tahu diri juga padahal
lusa mau UAS psikologi kepribadian dan sekarang malah asyik main blog dan buka
buku buat belajar hanya sekedar wacana :"D ya Allah ampuni dosa hambamu
ini.
Untuk yang pertama kalinya aku menjalankan ibadah puasa jauh
dari keluarga, yah tebak saja semuanya tentu berubah dan jauh lebih
"miris" ketika menjalankan puasa sendirian. Tapi ya enggak sengsara
banget gitu ya, aku masih bersyukur setidaknya walaupun puasa kali ini sahur dan
buka sendirian, cari makan sendiri, bangun enggak ada yang bangunin tapi aku
masih bisa merasakan kebahagiaan dan pengalaman yang enggak akan mungkin
terlupakan. Iya kan itu pasti, waktu enggak akan terputar lagi bro. Belum tentu
tahun depan bakal seseru atau semiris puasa tahun ini kan, HHH.
Oh ya, sebenarnya super duper sedih banget syih. Udah berapa
tahun ya sejak ayah meninggal, hmm iya 5 tahun udah puasa enggak bisa bareng
ayah lagi. Rumah jadi sepi, dulu puasa cuman bareng mama sama kakak. Tahun ini
jadi tahun paling menyedihkan, gimana enggak. Aku, kakak dan mama jadi enggak
bisa puasa bareng, enggak ada tuh nonton Para Pencari Tuhan pas waktu sahur,
terus enggak ada lagi makan gorengan dan minum es buah bareng pas waktu buka.
Pada jauh - jauhan, di Gresik, Malang, Magelang. Okeee terpisah jarak.
Heyy ya, tapi yaaaa aku ucapin so thanks banget buat Novi.
Bhaaks, meski kamu adalah teman ter-rewel dan bawel tapi bersama kamu aku
melewati sahur dan puasa kali ini. Terimakasih atas 'martabak mie' atau 'omlet'
atau apalah itu ya namannya terserah. Heheey, iya martabak mie ala novi menjadi
menu buka puasa kami berdua. Dengan peralatan seadanya, maklum di kosan gaada
dapur ya alhasil dia memakai magic jar nya untuk memasak martabak mie itu dan
finally berhasil dan rasannya mantaaap. Dan aku hanya menyediakan minumannya
yaitu es nutrisari haha. Yaa biarkan kami berdua bersenang - senang dengan
kesederhanaan dan keterbatasan anak kos yah gengs.
Rasannya jadi anak rantau yang jauh dari orang tua, kami iri
denganmu yang tak harus pindah kota. Ya beginilah suara hati kami anak anak
rantau yang terpisah ratusan kilometer dari orang tua dan keluarga. Seringkali
kami merasa iri pada kalian yang bisa setiap hari bertemu dan bercengkrama
dengan orang tua.
Sedangkan kami rindu sering menghinggapi tapi jarak dan
waktu tak memungkinkan untuk hanya sekedar bersua. Andai kesempatan itu selalu
ada. Kami sadari inilah takdir yang harus kami jalani.
Lahir dari rahim seorang ibu, tumbuh besar untuk kemudian
pergi dan menghilang, lenyap terisap dunianya sendiri-sendiri.
Setelah selesai beraktivitas kamu yang lelah ditunggu
masakan ibu dirumah. Sedangkan kami, harus beli atau masak sendiri. Gitu kamu
masih ngeluh ? Kamu bener – bener kurang bersyukur kalau masih tinggal
serumah sama orang tua, tapi masih aja ngritik masakannya. Sesekali pergilah
merantau, puluhan kilometer pun tak apa walau hanya tetangga kota. Kamu akan
merindukan mereka. Sesederhana masakan atau makanan yang sudah selalu siap
sedia. Sementara kami yang jauh dari orang tua masih harus
mengalahkan lelah dan lapar sendiri. Kalau membayangkan masakan ibu dirumah,
sesederhana apapun akan kami syukuri.
Orang tua dengan sabar menunggu saat-saat anaknya pulang
sebentar ke rumah. Walau nanti harus melepaskan pergi merantau lagi. Terkadang
kami juga membayangkan rasannya jadi ayah atau ibu. Mereka bekerja keras untuk
anak-anaknya. Lalu saat sudah tua, anaknya tak lagi tinggal bersama. Mereka
menghabiskan hari dengan membaca surat kabar, merawat bunga – bunga dan
ditemani buku-buku yang kami kirim atau bawa ketika kami datang. Terbayang
betapa bahagianya mereka kala kami pulang sebentar, walau setelah itu mereka
dengan berat hati harus ikhlas melepas kami merantau lagi.
Tapi mereka mengerti, ini soal prioritas dan kesempatan.
Untuk pendidikan, kadang memang harus tinggal jauh-jauhan. Kami bahagia dengan
apa yang sedang kami jalani, memang. Tapi hidup itu soal pilihan, iya. Apa
kalian tahu, kami juga menyimpan kesedihan. Sebab, orang tua terlebih ibu
merupakan salah satu bagian yang penting dalam hidup kami. Sehingga, jika ada
waktu luang kami selalu menomorsatukan pulang, menemani mereka.
Jadi orang yang setia, dari lahir-sekolah-kuliah-kerja
dikota yang sama, bukankah itu hal yang mewah dan istimewa? Mungkin kalian tentu juga iri pada kami yang bisa merantau
kemana-mana, ke kota lainnya. Tapi tak bisa dipungkiri, kota kelahiran akan
selalu menjadi tempat nomer satu dihatimu. Kamu mungkin pernah merasa ingin
berpindah dan menggapai mimpi dikota lain, tapi kamu tetap teguh mencintai kota
tempat kelahiranmu. Percaya dan yakinlah bahwa kota kelahiranmu adalah tempat
terbaik bagimu. Rumput tetangga memang selalu lebih hijau. Tapi inilah
sejujurnya yang kami rasa. Terkadang rasa sangat ingin pulang, tapi kesempatan
tak selalu datang.
Terimakasih Tuhan, semoga aku masih tetap bisa melewati ramadhan ditahun-tahun berikutnya. Ditulis saat sore tiba ditemani hujan rintik - rintik.Malang, Selasa 14 Juni 2016
Minggu, 29 Mei 2016
Selamat Menjadi Tua dengan Indah
Seneng banget belajar Psikologi, nih salah satunya aku lebih bisa memahami dan mengerti sesama manusia. Dan hari ini aku belajar untuk lebih memahami lansia. Semoga tidak berhenti dihari ini saja, semoga kita selalu memperhatikan dan menyayangi para lansia disekitar kita. Kalau bukan kita yang memperhatikan mereka. Lantas siapa lagi ?
Karena walau berjauhan raga, aku sungguh masih ingin memelukmu setiap harinya.
Ada apa sih dihari ini ?
Tau nggak sih kalau 29 mei ditetapkan sebagai Hari Lansia
Nasional. Seperti yang tertera pada data infografik diatas. Tentu mengejutkan
bukan ? Yuk kita sebagai generasi muda bergerak membantu para lansia menjadi
lebih siap dan sigap menjalani masa tuannya.
Bagaimana carannya ? Gampang banget teman-teman, saudara
sebangsa dan setanah air
dengan cara :
1. Libatkan anggota keluarga untuk memberi perhatian dan
memahami orang tua yang sudah lanjut.
2. Bantu orangtua untuk aktif dalam kegiatan sosial atau
kerohanian bila masih mampu.
3. Beri kesibukan yang bisa menyalurkan hobbi agar orangtua
dapat terhibur misalnya, berkebun, menanam tanaman hias, merajut, memancing,
dsb.
4. Perhatikan pola gizi yang sesuai untuk orang usia lanjut.
5. Sekali waktu jadwalkan rekreasi bersama kakek dan nenek
dengan seluruh anggota keluarga atau mengadakan reuni keluarga.
Yang terakhir dan yang paling penting adalah ungkapan cinta
dan kasih sayang dari anak-anak dan anggota keluarga yang akan membuat orang
lanjut usia menikmati masanya. Lansia itu ada di mana-mana. Mari membuka hati
untuk memperhatikan keberadaan mereka. Yuk jadikan masa tua menjadi masa yang
indah. #lansiabahagia #harilansianasional
Dan saya jadi teringat akan sesuatu, teringat oleh Mama saya
yang kian lama kian menua. Dan aku kerap dirundung khawatir ketika memikirkan
beliau. Satu tanyaku saat melihat wujudmu perlahan mulai menua :
“Sampai detik ini, apakah anakmu ini sudah cukup membuatmu
bahagia serta bangga, Mama?”
Jangan terlampau cepat meninggalkanku, Mama. Berjanjilah
untuk terus bersamaku.
Karena walau berjauhan raga, aku sungguh masih ingin memelukmu setiap harinya.
Karena aku ingin putra-putriku mengenalmu dengan baik,
sebaik aku pula yang kau cintai dengan sempurna
Maafkan aku, yang mungkin masih selalu menyimpan malu.
Untuk sekadar mengucap sayang padamu.
Untuk sekadar mengucap sayang padamu.
Maafkan aku, yang mungkin masih belum mampu jujur.
Untuk mengucap bahwa sesungguhnya aku ingin selalu berada dekat.
Dan tidak kalah oleh jarak.
Untuk mengucap bahwa sesungguhnya aku ingin selalu berada dekat.
Dan tidak kalah oleh jarak.
Maafkan aku, karena baru menyadari bahwa ketika sekarang aku
sibuk mendewasa.
Kau justru sedang bersiap menuju tua: Keriput di mana-mana, mulai tidak sigap dan tidak siaga, serta lemah dan mudah kehilangan tenaga.
Kau justru sedang bersiap menuju tua: Keriput di mana-mana, mulai tidak sigap dan tidak siaga, serta lemah dan mudah kehilangan tenaga.
Mama renta dan lemahmu, seharusnya mampu menjadi sumber
sabar dan sadarku.
Bahwa Tuhan sedang membuatku tidak lupa.
Bagaimana cinta seharusnya ditebar dan dibina.
Bahwa Tuhan sedang membuatku tidak lupa.
Bagaimana cinta seharusnya ditebar dan dibina.
Minggu, 01 Mei 2016
Makin menebal persoalannya
Minggu ini membuat aku ingin pergi dari kejenuhan rutinitas ini. Minggu yang membuat semua rasa entah tercampur aduk. Hingga aku sendiri sudah tidak merasakannya.
Aku rindu. Mati - matian kucoba untuk menciptakan kenyamanan seperti dirumah. Tapi kehangatan yang Mama tawarkan ternyata tak semudah itu dibawa pindah. Sebab disini aku baru sadar bahwa masakan Mama jauh lebih berharga dari sekadar kumpulan sayur dan bumbu - bumbu. Ada cinta dan kesabaran yang Mama tuangkan disitu.
Maaf ya Ma, aku anakmu ini jarang menunjukkan penghargaannya saat aku masih bersamamu dulu. Barangkali memang jarak dan kedewasaan yang dibutuhkan sebelum kini aku tahu betapa besar pengorbananmu. Berjanji padaku ya Ma, Mama harus sehat - sehat selalu supaya bisa terus memasak masakan rumah yang lezat itu untukku ...
Takut jauh, Mungkin memang sudah isyarat naluri jika Mama dirundung sindrom takut jauh. Bisa jadi karena mereka khawatir dilupakan. Sebab bukankah kita terus sibuk merapal bilangan usia, mengejar mimpi - mipi dan merindukan jodoh yang entah siapa dan dimana.
Bersamaan dengan itu pula, Mama diam - diam menyimpan kecemasan. Bagaimana jika sang mimpi besar telah berhasil menelan memori tentang keluarga, tentang rumah kecil pemiliknya. Bagaimana jika karir anak - anak yang telah setinggi langit, membuat mereka merasa berat kembali ke Bumi, tempat kerinduan Mama bersemayam.
Bersamaan dengan itu pula Mama menyimpan ketakutan. Bagaimana jika si jodoh yang terus kita pertanyakan, akan benar - benar membawa kita pergi jauh dari sisi mereka. Bagaimana jika sang belahan jiwa membuat mereka tak lagi disebut - sebut, tiada lagi diingat. Bagaimana jika Mama tak lagi sehati dan sejiwa dengan anak - anak yang seumur hidup telah menjadi belahan jiwanya.
Pernahkan Mama meminta kita tetap berada didekatnya. Pergilah tapi jangan jauh - jauh, Nak. Katanya. Atau justru sebaliknya. Dengan sengaja Mama membiarkan kita melanglang jauh. Jangan khawatir, Nak. Doa ibu telah menjadi payung teduhmya. Bagaimanapun mereka merelakanmu pergi, menjaga jarak untuk tetap berdekatan denganmu ibarat suplemen masa tua. Agar mereka tetap kuat dari balik tubuh ringkihnya yang termakan usia. Biar bisa meyakinkan diri jika dirimu baik - baik saja, dalihnya.
Bukankah kita seringkali terjebak paradoks ? Apa yang sebenarnya dekat, rasannya seperti amat jauh, sebab kita tidak pernah benar - benar menghargai kedekatan itu. Sedangkan mereka yang ditimpa keterpisahan jarak, justru terus merasa dekat, sebab mereka mampu memahami bahwa jarak adalah cara lain untuk menjaga, Perasaan Mama terlalu banyak yang mengkristal menjadi doa, daripada mengudara bersama kata. Sayangnya kita masih tergagap menerjemahkannya,
Jauh tidak selalu berarti terpisah jarak. Dekat tidak selalu berarti bersama.Ini hanyalah soal rindu yang ingin terus dijaga nyalanya.Dan tahukan, yang menjaga rindu itu tetap menyala adalah doa.Sebab bukankah doa anak anak yang shalih ibarat cahaya yang tak pernah padam?
Dari Nina- anakmu,
yang akan selalu terus;
mencintaimu dan merapal doa untukmu.
Jumat, 08 April 2016
Ada simpul yang terlepaskan
Duh Gusti begini banget. Mau nangis ..
Rindu memang tak pernah butuh tanya
Dia hanya butuh sedikit keberanian dan pengungkapan
4 tahun berlalu ...
Rindu yang tak pernah berhenti, meski waktu menggerus
Ini tentang kehilangan yang serius
Seperti apa kehilangan itu ? sedalam apa rindu itu ?
Dadaku semakin sesak, tersenggal – senggal
Sering dalam diam tanpa terasa air mata mengalir dari ujung
mata
Ketika rindu berkelebat tanpa mengenal waktu
Tidak diperintah
Tidak diminta
Menetes begitu saja
Kau tentu saja boleh bilang aku cenggeng
Silahkan kau tertawakan itu
Karena kau tidak mengerti
Kau tak tahu
Aku kuat tangguh
Aku sulit bersedih
Tapi ini beda
Demi nama darahnya mengalir di seluruh tubuhku
Aku ambruk ketika Dirinnya pergi
Itu kakak laki – lakiku
Dirinya masih tak kuasa
Bingung antara kepatuhan iman dan ketidakpercayaan
Tertawa diluar dengan luka terus basah didalam hatinya
Dan ibu, masih sangat jelas terlihat, terus mencoba merajut
kepedihannya yang sobek
Ibu kehilangan separuh jiwa ibu, begitu ungkapnya
Ibu akan menyusul ayahmu tinggal tunggu waktu saja
Ungkapan yang sering ibu lontarkan padaku akhir – akhir ini
Aku hanya bisa terdiam, menangis, terisak
Entah apa yang akan terjadi
Ketika Tuhan memisahkan jiwa dari raganya
Itu berarti, ada simpul yang terlepaskan meski tetap kuat
tapi melemah
Dan aku harus terus hidup dalam rindu yang tersekat akhirat !!!!
Jika menengadah ke langit lalu ada bulan sabit. Artinya seberat apapun hidupmu, Tuhan ajak kamu senyum
ditulis saat : kegalauan menghambat, nafas tercekat, seseorang butuh pertolongan pertama tapi dia lebih memilih menulis tentang seseorang yang mewarnai hidupnya. hebat !
Langganan:
Postingan (Atom)
